home icon
search icon
menu icon

KETERIKATAN

Dipublish Pada

04 Maret 2026

Dipublish Oleh

Thara Azura Najmi A.Md

Fenomena meningkatnya tindak kekerasan terhadap dan oleh anak-anak menjadi perhatian serius dalam beberapa waktu terakhir. Kasus bunuh diri, kekerasan dalam keluarga hingga pembunuhan antar saudara tidak bisa dilihat sebagai peristiwa tunggal. Ini biasanya merupakan gejala multidimensi yang melibatkan faktor psikologis, keluarga, sosial, dan digital. WHO (World Health Organization) menekankan bahwa gangguan depresi, kecemasan, dan stres koronis pada remaja meningkat secara global dalam satu dekade terakhir. Faktor pemicunya antara lain adalah tekanan akademik, konflik keluarga, perundungan, perasaan kesepian dan tidak dipahami, serta paparan konten negatif di media sosial.

KETERIKATAN
Dra. Roma Ayuni A. Loebis, M.A.
Kepala Pusat Bahasa USU
 

Fenomena meningkatnya tindak kekerasan terhadap dan oleh anak-anak menjadi perhatian serius dalam beberapa waktu terakhir. Kasus bunuh diri, kekerasan dalam keluarga hingga pembunuhan antar saudara tidak bisa dilihat sebagai peristiwa tunggal. Ini biasanya merupakan gejala multidimensi yang melibatkan faktor psikologis, keluarga, sosial, dan digital. WHO (World Health Organization) menekankan bahwa gangguan depresi, kecemasan, dan stres koronis pada remaja meningkat secara global dalam satu dekade terakhir. Faktor pemicunya antara lain adalah tekanan akademik, konflik keluarga, perundungan, perasaan kesepian dan tidak dipahami, serta paparan konten negatif di media sosial. Ada hubungan yang kuat anatara depresi yang tidak terdeteksi dengan kualitas komunikasi dalam keluarga. Dalam banyak penelitian psikologi perkembangan dan klinis, komunikasi keluarga menjadi salah satu faktor protektif (pelindung) maupun faktor resiko. Keluarga dengan komunikasi yang terbuka, empatik, tidak menghakimi serta responsif terhadap emosi cenderung lebih cepat mendeteksi perubahan perilaku negatif anak seperti menarik diri, perubahan pola tidur, mudah marah ataupun penurunan motivasi. Artinya komunikasi aktif antara orang tua dan anak bisa menjadi early warning system. Menurut teori yang dikembangkan John Bowlby (1958), kualitas keterikatan anak dengan orang tua sangat memengaruhi regulasi emosi. Secure attachment (Keterikatan aman) membuat anak lebih terbuka dalam menyampaikan masalah sedangkan insecure attachment (Keterikatan tidak aman) mengakibatkan anak cenderung menekan atau menyembunyikan emosi. Teori ini sejalan dengan Psikolinguistik yang menyatakan bahasa dipahami sebagai alat representasi pikiran dan emosi. Beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa anak dengan kosakata emosi yang terbatas cenderung sulit mengartikulasikan distress dan impulsif dalam perilaku. Depresi yang tidak terdeteksi bisa terjadi karena anak tidak memiliki perangkat linguistik untuk menamai emosinya. Hal ini bukan berarti anak tidak memiliki emosi, akan tetapi ia tidak memiliki kosa kata, struktur bahasa, atau kebiasaan komunikasi yang cukup untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan apa yang ia rasakan secara spesifik. Perangkat Linguistik mencakup 1.)Kosakata emosi (sedih, kecewa, hampa, frustasi, cemas, tertekan); 2.) Struktur kalimat untuk mengekspresikan perasaan (“Aku merasa…karena…”); 3.) Kemampuan membedakan nuansa emosi serta 4.) Pengalaman dialog emosional dalam keluarga. Jika anak hanya hanya memiliki dua label: “senang” dan “sedih” maka pengalaman emosinya yang kompleks akan sulit dipahami bahkan oleh dirinya sendiri. Jika anak tak mampu menamai emosinya maka distress menjadi tidak terartikulasi (tidak terucapkan), frustrasi berubah menjadi agresi, kesedihan berubah menjadi penarikan diri dan depresi menjadi tersembunyi. Padahal bahasa membantu kita dalam mengkategorikan pengalaman, mengorganisasi perasaan dan mengatur respons emosional. Ketika seseorang dapat mengatakan “aku bukan marah, aku merasa diabaikan” maka regulasi emosinya menjadi lebih terarah. Keterikatan Keluarga Pada akhirnya, lagi-lagi keluarga memegang peranan penting. Orang tua, pengasuh terdekat harus memiliki keterikatan aman dan kualitas emosional yang baik. Anak belajar bahasa emosi dari interaksi. Jika anak selalu mendapatkan emosi yang yang jarang dibahas, tangisannya dihentikan tanpa dialog, komunikasi keluarga hanya bersifat instrumental maka anak tidak mendapat model verbal untuk mengidentifikasi emosi. Padahal diferensiasi emosi membutuhkan eksplorasi bahasa yang kaya. Maka seyogyanya dalam keluarga dibangun komunikasi afektif. Ajak anak bercerita tentang masalahnya, luangkan waktu untuk mendengar keluh kesahnya. Semakin kaya leksikon emosi anak maka akan semakin baik regulasi emosinya. Anak dengan leksikon emosi yang kaya cenderung memiliki emotional granularity yang lebih tinggi yakni dia mampu membedakan “kesal” dengan “marah”, “cemas” dengan “panik”. Pada akhirnya anak akan lebih rendah dalam risiko depresi dan kecemasan, lebih adaptif dalam hubungan sosial, serta lebih mampu mengambil keputusan yang rasional ===

Artikel