Self-awareness
Dalam ranah psikologi, Self-awareness (kesadaran diri) dirujuk pada kemampuan individu untuk mengenali dan memahami dirinya sendiri-termasuk perasaan, pikiran, tindakan, serta bagaimana ia dipersepsikan oleh orang lain. Self-awareness merupakan salah satu komponen penting dalam perkembangan kepribadian dan kesehatan mental. Tasha Eurich (2017): Dalam bukunya Insight: The Surprising Truth About How Others See Us, How We See Ourselves, and Why the Answers Matter So Much, Tasha Eurich mengidentifikasi dua jenis self-awareness: Internal self-awareness yakni kemampuan untuk memahami perasaan, motivasi, dan perilaku kita sendiri dan External self-awareness yakni kemampuan untuk memahami bagaimana orang lain melihat kita. Eurich menyatakan bahwa kedua bentuk kesadaran diri ini sangat penting untuk pengembangan pribadi, karena memberikan wawasan tentang apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan dalam diri kita dan bagaimana kita dapat berinteraksi lebih efektif dengan orang lain.
Self-awareness dan perilaku berbahasa
Secara keseluruhan, kesadaran akan diri berperan besar dalam meningkatkan kualitas komunikasi seseorang, membuatnya lebih efektif, empatik, dan relevan dengan situasi sosial yang ada. Kemampuan seseorang untuk mengenali dirinya, memahami perasaan dan pikiran nya, serta bagaimana dirinya dipersepsikan oleh orang lain dapat memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, baik dalam bahasa verbal maupun non-verbal. Self-awareness dapat memengaruhi perilaku berbahasa seseorang, diantaranya dalam:
1. Peningkatan Kemampuan Komunikasi Interpersonal, yakni jika seseorang memiliki self-awareness yang tinggi cenderung lebih mampu menyesuaikan bahasa dan gaya komunikasinya dengan konteks sosial dan kebutuhan lawan bicara. Dia akan lebih sadar akan perasaan dan reaksi orang lain, sehingga bisa memilih kata-kata yang lebih tepat.
2. Kemampuan Mengelola Konflik, dimana self-awareness membantu seseorang untuk lebih peka terhadap dinamika dalam percakapan yang bisa berujung pada konflik. Ketika seseorang sadar akan sikap atau reaksinya, dia akan cenderung lebih baik dalam mengelola bahasa tubuh, nada suara, dan kata-kata yang digunakan dalam situasi yang emosional atau penuh ketegangan.
3. Kemampuan Empati dalam Berbahasa, dimana self-awareness juga berhubungan dengan empati, yaitu kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Semakin seseorang sadar akan perasaan dan perspektif orang lain, semakin dia mampu berkomunikasi dengan cara yang membangun hubungan baik dan penuh pengertian.
4. Keterampilan Berbahasa dan Pengelolaan Citra Diri, dimana self-awareness yang tinggi juga membantu seseorang dalam mengelola citra diri mereka melalui komunikasi. Seseorang yang memahami citra dirinya-baik dalam konteks pribadi maupun professional, akan lebih berhati-hati dalam memilih bahasa yang sesuai untuk menggambarkan dirinya, sesuai dengan situasi dan pendengar yang ada.
5. Kesadaran Sosial, yakni self-awareness juga berhubungan dengan kesadaran sosial, yaitu kemampuan untuk memahami norma-norma sosial dalam berkomunikasi. Seseorang yang sadar akan perbedaan budaya atau konteks sosial cenderung lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata agar tidak menyinggung perasaan orang lain atau menimbulkan salah paham.
Penutup
Salah satu bentuk kesadaran diri seseorang dalam menjaga kesehatannya adalah dengan menjaga pola makan yang baik. Mengkonsumsi es teh secara berlebihan dapatTop of FormBottom of Form berdampak buruk bagi tubuh, diantaranya obesitas, kerusakan gigi, penyakit jantung bahkan stroke. Sejatinya juga, kesadaran diri dalam berbahasa seseorang (apalagi seorang pejabat) haruslah tinggi, karena mereka memiliki tanggung jawab yang besar terhadap publik dan institusi tempat mereka bekerja. Olok-olok dan ucapan yang berlebihan patut dihindari, karena ada telinga dan perasaan pendengar yang harus dijaga.